Classiclopedia Bandung
Written by Administrator   
Story by. Dyta, Pic by. Olla

Nampaknya bulan Agustus ini membawa aura positif tentang sebuah perjuangan di masa silam. Terserah ingin mengidentikan arti perjuangan itu seperti apa, namun kali ini nggak ada salahnya menilik sedikit perjuangan dari beberapa pengusaha kecil di kota Bandung yang telah melewati lebih dari tiga generasi. Meskipun saat ini nama besar usaha mereka tidak se-happening pada jamannya, tapi coba tanya kepada mereka-mereka yang merasakan hidup di era 1940-1970. Satu kata untuk kisah perjuangan para pengusaha ini, mengagumkan!

Mereka yang berjuang mempertahankan cita rasa
Bandung memang surganya makanan enak, no wonder tujuan utama pengunjung luar kota ke Bandung mendadak berubah yaitu wisata kuliner. Ternyata gampang-gampang susah mencari kuliner Bandung tempo dulu yang cita rasanya masih bisa diterima baik lidah-lidah era millennium. Melewati ruas jalan Teuku Angkasa akhirnya menemukan satu rumah makan sederhana yang cukup adem. Gado-gado Teungku Angkasa, beberapa orang menyebutnya begitu. Meskipun tersedia pula nasi rames, namun sejak tahun 1968 masyarakat Bandung dibuat tergila-gila oleh gado-gado racikan Ibu Hj. Atikah (Alm). Mungkin salah satu alasannya adalah perpaduan yang pas antara sayur-mayur segar, bumbu kacang, telor, tahu, kentang, kerupuk, dan bawang goreng sehingga nggak heran kenapa makanan yang satu ini tetap digemari. Usaha rumah makan yang buka dari pukul 08.00 – 17.00 WIB setiap harinya kemudian diwariskan Ibu Hj. Atikah kepada  Ibu Yeni yang merupakan putri kandungnya. Pada tahun 1968, untuk pertama kalinya gado-gado ini dibandrol dengan harga Rp. 25,- sampai pada akhirnya di era ini pengunjung dapat menikmati gado-gado dengan harga Rp. 10,000 saja. Satu hal yang mengagumkan dari perjuangan usaha gado-gado ini yaitu nggak pernah mengalami resesi alias stabil!  
Well, di era 1960-an juga ramai dibicarakan makanan yang satu ini, Ayam Goreng Nikmat Jl. Panaitan. Rumah makan yang awalnya berlokasi di belokan antara Jl. Veteran dengan Jl. Sunda ini sudah berdiri sejak tahun 1965. Saat ini usaha yang menyajikan special menu ayam goreng sudah dipegang kendali oleh generasi ketiga alias cucu-cucunya. Pada jamannya, Ayam Goreng Nikmat menjadi tujuan utama para wisudawan UNPAD dan ITB yang ingin merayakan kelulusan. Rasanya nggak lengkap kalau nggak mentraktir teman-teman di Ayam Goreng Nikmat kala itu. Salah satu hal yang membuat  ayam goreng ini patut dicoba adalah ciri khas menggoreng ayam dengan menggunakan tungku arang sehingga membuatnya makin gurih. Menjaga kualitas ayam dan resep asli merupakan rahasia utama bertahannya usaha ini. “Ayam yang belum digoreng tapi sudah dibumbui bisa tahan sampai seminggu,” ujar Ibu Jenny sang pemilik generasi kedua. Sejak tahun 1968 Ayam Goreng Nikmat sudah menetap di Jl. Panaitan No. 9 (sekitar Jl. Sunda). Dengan harga Rp. 12,500 per satu potong ayam rasanya worthed kok dengan nilai historis usaha ini…
Beralih ke era 1970-an. Tanya kakek, nenek, orang tua, atau siapa pun yang sempat merasakan hebohnya Es Bungsu / Es Campur Jl. Bungsu (sekarang Jl. Veteran). Minuman segar ini diakui punya citarasa yang orisinil, walaupun menurut sebagian besar orang es campur dimana-mana rasanya tetap sama. Usaha yang dimulai pada tahun 1976 ini atas ide Bapak Sumarsana yang kemudian diteruskan oleh anak-anak dan para pekerja setianya. Es campur ini mengalami masa kejayaan di tahun 1980-an, namun sampai saat ini sisa-sisa kejayaan itu masih terasa kental. Lokasi di dalam gang sempit nggak menyurutkan niat pengunjung untuk menikmati es campur seharga Rp. 8,000 plus suguhan akustik gitar yang membawakan tembang-tembang  nostalgia. Bapak Endang selaku penerus usaha ini menuturkan walaupun banyak yang membuka cabang untuk es campur ini, tapi pengunjung tetap banyak yang memilih datang ke gang sempit ini.


Mereka yang berjuang mempertahankan cipta rasa
Sebenarnya nggak begitu sulit mendapatkan lokasi tempo dulu di Bandung, yap Braga! Jalan Braga memang menjadi pesona tersendiri bagi kota Bandung, tapi sayangnya semangat perjuangan mempertahankan icon Braga belum sepadan dengan perjuangan beberapa deret toko tua yang melingkupi ruas sisi jalan itu. Sebuah toko souvenir dengan label ‘Sin Sin Souvenir & Antique Shop Since 1943’ merupakan salah satu saksi mata kemegahan jalan Braga di jamannya. Toko yang menjual berbagai cinderamata dari seluruh Indonesia ini telah melewati perjalanan yang cukup panjang. Di tahun 1943 toko ini mulai ramai dikunjungi dimana sebagian besar pengunjung adalah warga non pribumi, bahkan sampai saat ini keberadaan toko Sin Sin masih menarik perhatian turis mancanegara saat menelusuri kawasan Braga. Ibu Sin Sin mengikuti jatuh bangunnya mempertahankan toko warisan sang Ayah. Ia menyayangkan kawasan Braga saat ini yang nggak semenarik dulu. Dengan adanya bangunan baru dirasakan mengurangi nilai historis Braga itu sendiri dan semakin menyisihkan bidang usaha yang telah dirintisnya selama bertahun-tahun. Melihat harga souvenir yang cukup mahal untuk kantong warga pribumi memang nggak ditampik oleh Ibu Sin Sin, namun jika diperhatikan kualitas barang yang sebagian besar terbuat dari perak murni ini bisa dibilang nggak rugi sama sekali. Kalau penasaran dengan toko ini datang sebelum pukul enam sore, dijamin bakal merasakan kembali Braga tempo dulu.
Dari tampak luar bangunan ini sangat oldiest, dengan font bergaya klasik tertulis ‘Toko Buku Djawa’. Mulai merintis usaha di tahun 1960 bisa dibilang toko ini adalah pionir dalam penjualan buku-buku impor. Di tahun itu Indonesia belum mempunyai industri percetakan yang mampu mencetak buku sendiri sehingga lebih banyak mendatangkan buku-buku dari luar negeri. Toko Buku Djawa mengambil kesempatan emas itu sebagai ladang kesuksesannya. Hasilnya toko buku yang buka setiap hari Senin sampai Sabtu ini mempunyai banyak pelanggan tetap dari kalangan pejabat tinggi negara. Salah satu pelanggan setianya yaitu mantan Presiden Indonesia BJ. Habibie. Bapak Daniel sebagai penerus usaha milik Ibunya menuturkan kendala yang dihadapi saat ini yaitu mulai menjamurnya industri percetakan yang nggak dipungkiri dapat membajak buku-buku impor dengan mudahnya, dan tentu saja dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Namun Bapak Daniel bisa sedikit berbangga hati karena masih ada beberapa bukunya yang terbilang langka ditemukan di toko buku biasa. Selain itu beberapa pelanggan setianya pun masih membeli dan memesan buku-buku khusus di toko buku miliknya ini. Meskipun nggak seramai di era tahun 1960-an, tapi usaha toko buku ini untuk mempertahankan hasil karya orang tanpa membajak dapat diacungi jempol. Salute!

*Gado-Gado Teungku Angkasa, Jl. Teungku Angkasa No. 37 Bandung
*Ayam Goreng Nikmat, Jl. Panaitan No. 9 Bandung
*Es Campur Bungsu, Jl. Veteran No. 29 Bandung
*Sin Sin Souvenir & Antique Shop, Jl. Braga No. 59 Bandung
*Toko Buku Djawa, Jl. Braga No. 79 Bandung
 

babes of mib

supported by